BEKACITIZENOpini

“First Education” dalam Pembelajaran Daring

Oleh: Nurul Yaqin, S.Pd.I

Radarbekasi.id – Tanpa menunggu adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), lembaga pendidikan merupakan salah satu institusi pertama yang telah menonaktifkan pembelajaran tatap muka di ruang kelas. Tujuannya sama, menghindari kerumunan demi membendung penyebaran Covid-19. Sebagai gantinya, lembaga pendidikan menerapkan pembelajaran online berbasis IT (information technology).

Jadi, pandemi ini mau tidak mau telah memaksa guru untuk melek teknologi. Jika sebelumnya apatis, saat ini pengetahuan akan teknologi menjadi sebuah keniscayaan. Sistem pembelajaran online yang telah terlaksana hingga hari ini membutuhkan keahlian dalam mengoperasikan platform-platform pembelajaran.

Ini tidak mudah, meskipun pembelajaran online telah dikenal sejak lama, tetapi implementasinya masih minim. Hal ini tentu menjadi tantangan baru bagi para guru. Jika dalam kondisi normal (sebelum wabah covid-19), metode pembelajaran apa saja tidak menjadi masalah, karena guru langsung bertatap muka dengan peserta didik. Tidak perlu aplikasi seperti zoom, google classroom, padlet, global talk, pearson, dan lain-lain.

Terlena Metode Konvensional
Namun, dalam pembelajaran tatap muka metode konvensional (ceramah) masih menjadi primadona di kalangan para guru. Hal ini lantaran persiapannya yang tidak rumit dan tidak membutuhkan banyak instrumen pembelajaran.

Guru cukup menjelaskan dan murid mendengarkan. Pembelajaran hanya berpusat pada satu arah, yaitu guru (teacher centered learning). Jika metode ceramah disampaikan cukup apik, dijelaskan dengan diksi yang menarik, dan disertai dengan kisah-kisah unik, maka siswa akan antusias.

Namun, hal demikian tetap menjadi problematik meskipun peserta didik bisa menyerap dan memahami penjelasan guru dengan baik. Mengapa demikian? Karena esensi kegiatan belajar mengajar (KBM) harus mencakup tigal hal, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan karakter (attitude).

Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran, peserta didik harus memahami informasi atau pengetahuan dengan baik, kemudian mampu menggunakan pengetahuan menjadi sesuatu yang bernilai, dan menjadikan pengetahuan itu sebagai watak atau tabiat yang melekat dalam pribadi siswa. Ketiganya ini harus terpenuhi, bukan sekadar paham lalu selesai.

Masalah akan menjadi lebih rumit manakala metode ceramah disampaikan dengan cara yang membosankan. Guru menjelaskan pelajaran dengan intonasi yang datar, pemilihan kata yang tidak mudah dimengerti, dan ditambah dengan gestur tubuh yang tidak meyakinkan.

Alhasil, peserta didik rentan mengantuk, kondisi kelas ramai, dan pada akhirnya siswa tidak paham dengan apa yang guru sampaikan. Dalam kondisi seperti inilah guru belum bisa menghargai harkat dan martabat murid sebagai manusia seutuhnya. Murid diibaratkan gelas kosong yang hanya diisi dengan pengetahuan yang tak berkesan.

Jika metode ceramah ini telah menjadi habituasi, maka ini akan berkelindan secara kontinyu, meski dalam kondisi pembelajaran yang berbeda, seperti pembelajaran online saat ini. Artinya, jika metode ceramah yang membosankan telah biasa dilakukan dalam pembelajaran di kelas, maka bukan hal mustahil metode demikian akan tetap dilestarikan dalam pembelajaran online.

Logika sederhananya, jika dalam pembelajaran di kelas saja minim inovasi, apalagi dalam pembelajaran online yang secara mekanisme lebih rumit cara mengoperasikannya. Bukankah demikian?

Padahal jika mengacu pada kurikulum 13 pembelajaran harus mengutamakan pembelajaran berbasis siswa (student centered learning). Maksudnya, sistem pembelajaran yang dibangun oleh siswa sendiri tanpa mengandalkan keterangan guru. Jadi, dalam pembelajaran ini siswa diarahkan bagaimana mereka menelaah, mengeksplorasi, merumuskan, mempresentasikan, dan mengaplikasikan materi pelajaran dengan kemampuan sendiri.

Nah, dalam pembelajaran online pun metode pembelajaran seperti ini tidak boleh diabaikan. Siswa diharapkan dapat menggali pembelajaran meski dengan jarak yang berjauhan. Untuk mencapai itu, diperlukan metode khusus agar agar pembelajaran tepat sasaran dan bermutu.

Untuk mewujudkan pembelajaran student centered learning ini dapat diimplementasikan dengan model pembelajaran “First Education”. Model ini saya dapatkan dari pelatihan online bertema “Pembelajaran Daring Berbasis Rumah yang Bermakna” pada 8 April lalu oleh ibu Tuti Turmiati, M.Pd selaku Direktur Pendidikan Yayasan Nurrahim Annur sekaligus sebagai ketua Badan Lisensi Sekolah Islam Terpadu (BLSIT) Jawa Barat. Di sana ibu Tuti menekankan supaya model ini diterapkan dalam pembalajaran online agar mencapai hasil yang maksimal.

Penerapan “First Educatioan”“First Education” merupakan sebuah akronim dari frase bahasa inggris yang menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses pembelajaran. Pertama, focussing. Yaitu memusatkan perhatian kepada peserta didik.

Hal ini dapat dilakukan dengan membuka pembelajaran dan menyapa siswa (individualization). Mengecek murid secara berkala dengan membaca absen satu persatu (probing and assesing). Dan memberikan kepercayaan kepada peserta didik (trust the leaner).

Kedua, interacting. Yaitu berinteraksi dengan peserta didik. Ini bisa dilaksanakan dengan kegiatan yang melibatkan seluruh siswa (sosial event) seperti meminta siswa untuk menyebutkan tiga kata semangat, atau hal-hal lain. Interaksi ini juga bisa berupa penyampaian cerita menarik yang dapat memotivasi siswa sehingga lebih semangat dalam melakukan aktivitas.

Ketiga, reviewing. Yaitu mengulas pembelajaran. Kegiatan ini diawali dengan persiapan (readiness) yang matang mulai dari pengondisian siswa, aplikasi apa yang akan digunakan, instrumen apa saja yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran, misalnya, seperti video, voice, quiz, dan lain-lain.

Dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran sesuai dengan metode yang telah dirancang. Barulah pengulasan terkait pembelajaran, bisa dengan meminta siswa mengeluarkan pendapat atau perasaan yang berhubungan dengan pembelajaran.

Keempat, sequencing. Yaitu mengurutkan materi pembelajaran. Hal ini dimulai dari strukturalisai materi yang akan disampaikan (structuring). Melakukan pengulangan terhadap pelajaran yang telah dipelajari (repetition). Dan terakhir meringkas materi pembelajaran (summaring).

Dan kelima, Transforming. Maksudnya, mentransformasikan materi pembelajaran dengan dunia nyata. Mempraktikkan materi yang diajarkan dalam kehidupan. Kemudian melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Jadi, pembelajaran tidak hanya paham ketika proses berlangsung, akan tetapi benar-benar menjadi modal atau bekal dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Memang, secara implementasi “First Education” tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan kesiapan maksimal di berbagai domain. Namun sebagai guru pembelajar model ini patut untuk diejawantahkan agar pembelajaran online yang telah berjalan kurang lebih satu bulan bukan hanya ajang “pemberian tugas” kepada peserta didik. Ingat, tatkala guru mengajar belum tentu murid belajar, apalagi sekadar memberi tugas latihan. (*)

Guru SMPIT Annur Cikarang Timur, Bekasi. Anggota Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya (KGBPR)

Related Articles

Back to top button