Pendidikan

Si Lamban “Kungkang” Merambah Bisnis Kopi

Daffa Alrizkyra

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Daffa Alrizkyra merupakan mahasiswa Universitas Islam 45 Bekasi dari Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Mahasiswa semester akhir yang kini tengah merampungkan skripsinya ini sukses dalam melakoni bisnis kedai kopi di wilayah Padurenan Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi.

Daffa-sapaan akrabnya- merintis usaha mulai dari nol hingga sebesar ini. Bisnis kedai kopi dipilih lantaran ia juga pecinta kopi. Berawal dari memiliki relasi cukup banyak di dalam maupun luar kampus, ia memberanikan diri menjual minuman kopi dingin kepada temannya tersebut pada 2020.

“Pada tahun itu saya memberanikan diri menjual kopi kemasan kepada teman, gak taunya mereka pada senang dengan racikan saya. Yaudah saat itu pula langsung memutuskan membeli kontainer box ukuran 2 x 1 meter hasil menjual ponsel. Setelah beberapa bulan memiliki modal cukup, saya segerakan menyewa rumah joglo tak berpenghuni,” ungkapnya.

Pria 21 tahun ini mengakui bahwa sebenarnya tidak ada masalah antara tugas akhir dan dunia usaha kopi. Justru baginya ini adalah ajang pembuktian dalam penerapan disiplin ilmu manajemen.

Sebenarnya ia seorang yang lamban di setiap aktivitas sampai harus menunda skripsi selama tiga semester. Dipilihlah nama “KungKang” sendiri sebagai brand kopi, lantara hewan tersebut melakukan segala sesuatu dalam gerakan lambat.

“Saya memang sempat menunda skripsi karena memang males aja sih, mungkin lebih tepat mager (males gerak) kaya hewan kungkang. Saya suka belajar tapi enggan terhadap ujian, maka dari itu tugas akhir saya belum terselesaikan. Tapi saat ini sih lagi proses pengerjaan dan insya allah semester ini pasti lulus ujian akhir”, ujar daffa.

Saat ini status mahasiswa masih disandangnya, namun tak bisa diremehkan pula hasil kerja keras dalam usaha kopi. Pemilik kedai kopi itu mengatakan bahwa KungKang tidak hanya sekedar tempat nongkrong, melainkan menjembatani ruang diskusi umum dari berbagai kampus dan kegiatan sosial. Untuk jangka panjang ia berharap tempatnya menjadi pusat belajar bagi siapapun yang datang.

“Target kedepan semoga bukan hanya ngopi tapi pengunjung harus mendapatkan sesuatu lebih dari tempat ini, kedepan kungkang tengah bersiap melakukan perancangan kegiatan seperti ruang fotografi, membatik, bedah buku, program healing dari teman psikolog. Pada dasarnya semua hal yang mencakup kegiatan sosial terlebih pada pendidikan bisa diterapkan. Bagi saya bukan melulu soal bisnis, tapi harus ada edukasinya,” pungkas Daffa. (mg2)

Related Articles

Back to top button