BEKACITIZENOpini

Peran Pembelajaran Digital dalam Kemajuan Pendidikan di Era Globalisasi

Oleh: Addini Zahra Khaerunnisa, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Era digital saat ini nampaknya sudah menguasai beberapa bidang, termasuk bidang pendidikan. Era digital yang terkenal dengan kekayaan penggunaan teknologi di dalamnya menjadi sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

Sejak era globalisasi yang bergulir pada akhir abad ke-20 zaman terasa bergulir dengan cepat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pun menjadi salah satu bagian yang membuat dunia seolah tanpa batas. Masyarakat yang berada di tengah kehidupan era digital ini diharapkan mampu untuk bersaing.

Bersaing disini diarahkan ke dalam bagaimana masyarakat mampu mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih. Dengan begitu, kualitas pendidikan selalu diupayakan terus meningkat baik secara konvensional maupun inovatif.

Hal tersebut dilakukan seiring dengan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk meningkatkan mutu pada setiap jenis dan jenjang pendidikan serta bersamaan dengan persaingan di era globalisasi.

Hal ini membutuhkan pengadaptasian dan pengembangan dari pada tujuan pendidikan juga kurikulum harus disesuaikan serta berbagai jenis keterampilan yang diperlukan dalam komunikasi global harus diakomodasikan.

Dunia pendidikan digitalisasi akan mendatangkan kemajuan yang sangat cepat yakni munculnya beragam sumber belajar dan merebaknya media massa, khususnya internet dan media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan.

Dengan begitu dampak yang diperoleh yaitu pendidik bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Sebab siswa dapat lebih mudah menguasai ilmu pengetahuan melalui akses internet.

Berbicara ilmu pengetahuan, kata dia, sebenarnya tidak ada yang lebih tinggi, baik ilmu yang satu maupun dengan ilmu lainnya kecuali ilmu filsafat itu sendiri.

Cabang dari filsafat yang berkaitan dengan teori pengetahuan ialah epistemologi. Sebagaimana epistemologi ini mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi dan rasionalitas keyakinan.

Di era digital seperti ini sudah sangat terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri berkembang cukup luas, sebab apa yang ditawarkan atau diberikan oleh teknologi saat ini memberikan kemudahan bagi pengguna, termasuk dalam bidang pendidikan.

Saat ini baik pendidik maupun siswa diberi kemudahan untuk mengakses segala macam ilmu pengetahuan melalui internet. Maka dari itu, epistemologi yang semula sulit dipahami oleh masyarakat sekarang dapat dipahami lebih baik dari sebelumnya karena kemudahan yang diberikan dari perkembangan zaman yaitu kemajuan teknologi dan informasi.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, pembelajaran di era digital ini atau biasa disebut e-learning merupakan model pembelajaran dengan perangkat digital yang pada dasarnya dapat dilakukan secara live ataupun recording. Dengan kata lain dapat dikatakan di sini siswa akan mendapatkan akses penuh terhadap materi serta penjelasan pendidik kapanpun dan dimanapun.

Bahkan siswa dapat lebih mudah mengulang rekaman pembelajaran tersebut ketika ia perlukan sewaktu-waktu. Namun dalam hal ini perlunya pendukung seperti teori-teori pendekatan belajar.

Teori belajar itu sendiri merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar sehingga membuat kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar.

Teori belajar seperti objektivisme, behaviorisme, kognitivisme dan constructivisme yang digunakan oleh pendidik dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar diharapkan mampu menuntut siswa dalam proses belajarnya agar apa yang telah siswa dapatkan secara epistemologi berkembang menjadi lebih baik lagi.

Seperti yang diutamakan dalam salah satu teori belajar yaitu teori constructivisme bahwa metode pembelajaran baiknya lebih menekankan kepada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar.

Menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, kebebasan yang disebutkan sebelumnya pun memberi dampak pula terhadap proses belajarnya siswa di kelas.

Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan dengan bahasanya sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Kesempatan tersebut juga nantinya akan mengembangkan kemampuan berpikir siswa untuk belajar mengasah berpikir tingkat tingginya, yakni berpikir untuk melakukan analisis, sintesis dan evaluasi melalui apa yang telah mereka kerjakan.

Sejalan dengan itu maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran di era digital seperti ini pun membutuhkan pendukung-pendukung pembelajaran lainnya yang dapat mendorong sebuah pembelajaran tersebut berlangsung dengan baik dan berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sebab di dalam pembelajaran digital terdapat harapan untuk menyiapkan siswa menghadapi zaman di abad ke-21 ini, dimana perkembangan zaman ini mengharuskan seseorang mempunyai life skill di dalam dirinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran saat ini yaitu pembelajaran berbasis digital bukanlah pembelajaran yang biasa. Dimana seorang pendidik dan siswa harus saling bekerja sama untuk membangun visi misi bersama di dalam sebuah proses pembelajaran.

Dengan kata lain, seorang pendidik tidak hanya sebagai pengajar di dalam kelas tetapi juga harus mampu menjadi fasilitator, pembimbing, motivator, monitor bahkan kawan belajar untuk para siswanya.  Begitu pun dengan siswa, siswa harus mampu menjadi pusat atau sebagai objek yang secara aktif belajar dalam keberlangsungan proses pembelajaran. (*)

Related Articles

Back to top button