Program Praktisi Mengajar Perkecil Kesenjangan

ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa Universitas Bina Insani saat mengikuti perkuliahan tatap muka. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI
ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa Universitas Bina Insani saat mengikuti perkuliahan tatap muka. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Program Praktisi Mengajar sebagai bagian dari kebijakan Kampus Merdeka – Merdeka Belajar dinilai dapat meminimalisir gap (kesenjangan) antara dunia kampus dengan dunia industri.

“Jadi memang gap antara dunia kampus dengan dunia industri itu sangat jauh berbeda dan tentu adanya program ini dapat memperkecil gap,” ujar Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Majelis Pengurus Daerah  (ADI MPD) Bekasi Raya Wawan Hermawansyah melalui sambungan selulernya kepada Radar Bekasi, Kamis (23/12).


Lebih lanjut Wawan menjelaskan, kesenjangan yang dimaksud ialah penguasaan materi di lapangan yang tidak diberikan secara penuh oleh akademisi.

“Memang butuh kontribusi dan kerjasama yang baik antara dosen akademisi dengan pengajar praktisi,” jelasnya.


Menurutnya, dunia akademisi sangat berbeda dengan dunia praktisi. Dalam dunia akademisi, dosen menyampaikan beberapa hal secara teoritis, sedangkan dunia praktisi pengajarnya dapat menekuni salah satu bidang tertentu.

“Sangat berbeda dan jika terjadi ini merupakan kolaborasi yang sangat tepat, sehingga dapat menjadi perubahan yang baik bagi perguruan tinggi,” katanya.

Dikatakan, program Praktisi Mengajar tidak hanya berlaku bagi dunia industri. Tetapi juga dapat dilakukan oleh para pelaku bisnis sehingga dalam penyampaian materi diharapkan mahasiswa dapat terjun langsung di lapangan.

“Di sini diharapkan bukan hanya pelaku industri saja, tetapi juga bisnis, sehingga mahasiswa dapat terjun langsung ke lapangan melihat materi-materi yang disampaikan dan praktek secara langsungnya,” ucapnya.

Pertemuan kuliah juga dapat dilakukan kombinasi. Seperti contoh mata kuliah kewirausahaan memiliki 14 kali pertemuan. Pertemuan 1 sampai 7 dapat dilakukan oleh dosen akademisi, sedangkan 8 sampai 14 dapat diisi oleh praktisi.

“Ini bisa dilakukan kombinasi pembagian pertemuan antara dosen akademisi dan pengajar praktisi,” katanya.

Dikatakan bahwa di Kota dan Kabupaten Bekasi program ini diprediksi akan lebih cepat diadaptasi oleh para perguruan tinggi. Sebab kedua daerah ini sangat dekat dengan dunia industri. (dew)